Perjalanan Aliansi dalam merespon Visi 2025 Suatu Pembahasan Misiologis

Catatan Editor: Kami membagikan dokumen ini secara umum dalam rangka membangun pemahaman dan komunitas. Serangkaian catatan kesimpulan ini tidak mencerminkan posisi tertentu dari Wycliffe Global Alliance. Rangkaian catatan Ini adalah rekaman diskusi yang berlangsung di antara 200 lebih pemimpin organisasi dan Badan Pengurus dari 100 lebih oragnisasi-organisasi Aliansi. Hal ini juga mewakili keberagaman budaya, pendapat dan ide-ide dari para pemimpin organisasi aliansi. Pembelajaran dan hubungan ini terus berlangsung di tempat yang baru dengan ekspresi yang baru juga. Hal ini juga merupakan bagian dari perjalanan aliansi di mana kita berjalan bersama-sama dan rindu berpartisipasi secara penuh dalam Misi Allah.

Pertemuan Wycliffe Sedunia
6-7 Mei 2016

Chiang Mai, Thailand

Melalui pembelajaran selama dua hari dalam Pertemuan Wycliffe sedunia, para peserta mendiskusikan tentang ‘Perjalanan Aliansi dalam merespon visi 2025’. Kami menyadari bahwa Visi 2025 menjadi pengingat bagi kita, bahwa ketika kita berpartisipasi dalam penerjemahan alkitab kita harus berefleksi dan merespon pada hal-hal yang ada di sekeliling kita dan juga di hadapan kita. Kita harus mempertimbangkan peringatan yang diberikan oleh Payne bahwa, “Hanya karena kita melakukan sesuatu di lapangan, dan kita merasakan hasilnya, bukan berarti kita tidak melakukan evaluasi berulang-ulang atas tindakan kita”.[1]

Tujuan dari diskusi kita tentang VISI 2025 adalah:

  • Untuk menjejaki kembali dan berefleksi atas perjalanan Aliansi dalam merespon Visi 2025.
  • Untuk mengeksplorasi beberapa pertanyaan masa kini yang dihadapi oleh organisasi-organisasi Aliansi terkait Visi 2025
  • Bagi setiap organisasi Aliansi, dalam konteks kontribusi mereka yang unik dalam Penerjemahan Alkitab, agar berkomitmen untuk menghadapi masalah-masalah yang dapat menghalangi ataupun meningkatkan penerjemahan alkitab yang efektif.

Pembahasan ini terfokus pada tema-tema sebagai berikut :

  1. Suatu tinjauan atas perjalanan Aliansi dalam merespon visi 2025
  2. Peneguhan Misiologis yang diwujudkan dalam Visi 2025

2.1 Urgensi / Sifat mendesak

2.2 Menghadapi Kemitraan berbasis Kerajaan:

2.2.1 Bermitra sebagai sahabat

2.2.2 Bermitra dalam konteks realita Global.

2.3 Kebergantungan kepada Allah

Nilai utama dari pembahasan ini bisa dirasakan setiap orang baik melalui diskusi kelompok meja maupun melalui diskusi di sela-sela rehat. Kami sangat berterimakasih kepada para fasilitator (baik fasilitator dalam konsultasi maupun fasilitator kelompok) yang telah membantu berjalannya proses diskusi. Kami juga berterimakasih kepada para pencatat/penulis karena menyediakan catatan sekilas pandang dari setiap diskusi yang berlangsung di tengah 28 kelompok meja. Catatan-catatan itu sudah dibundel menjadi 100 halaman dokumen berbahasa Inggris dan dapat diminta kepada Stephen Coertze di Missiology@wycliffe.net.

Kumpulan catatan itu sudah diringkaskan ke dalam 10 halaman kesimpulan. Kesimpulan ini tidak dimaksudkan untuk mencatat perkataan yang persis sama yang diucapkan peserta dalam kelompok diskusi. Melainkan suatu upaya untuk menggambarkan kedalaman dan keberagaman ide-ide yang memperkaya Aliansi. Silakan menggunakan ide-ide di dalam kesimpulan ini untuk melanjutkan pembahasan.

Perjalanan Aliansi dalam merespon Visi 2025

Perjalanan sejauh ini…

Refleksi adalah hal yang sangat penting. Refleksi memungkinkan terjadinya perubahan perspektif/cara pandang. Apakah kita peka ketika pintu tertutup bagi kita dan apakah kita mau melewati pintu lainnya ke arah yang belum pernah kita tempuh sebelumnya? Refleksi harus terjadi di semua level/tingkatan dalam organisasi, mulai dari jajaran Badan Pengurus kemudian staff kantor juga tenaga lapangan. Adalah penting untuk merefleksikan perubahan-perubahan yang terjadi dan memikirkan apa yang harus dilakukan dan bagaimana merespon terhadap realita yang baru tersebut. Refleksi menunjukkan kebergantungan dan rasa percaya kita kepada Allah, dan memberikan kita kesempatan untuk berpikir secara kreatif.

Hubungan dengan Gereja merupakan tema umum dalam misi sekarang ini. Misiologi mengubah cara berpikir gereja. Metode dan Misi tradisional akan berubah. Kita harus terhubung dengan gereja lokal, gereja nasional juga gereja luar lainnya. Gereja-gereja sedang berubah dan Wycliffe pun harus berubah seiring waktu. Terkadang dalam organisasi penerjemahan “misi gereja” hanyalah sebuah pilihan. Seharusnya tidak demikian. Wycliffe harus lebih memiliki kesalingbergantungan dengan gereja lokal dalam hal: Memecahkan masalah, menyediakan sumber daya, dan keberlangsungan. Bagaimanakah cara kita melibatkan Gereja Mayoritas?

Misi yang bersifat kemanusiaan harus berjalan bergandengan dengan Penerjemahan Alkitab.

Keterlibatan/ kepemilikan lokal adalah hal yang sangat esensial. Organisasi Pengutus harus menghargai kebutuhan lokal, mereka harus menjadi pelatih dan penolong daripada pelaksana. Kita memerlukan strategi yang memanfaatkan struktur yang sudah ada. Organisasi penyandang dana harus memahami keputusan organisasi lokal dan nasional.

Ada kesalingbergantungan yang lebih besar dalam misi masa kini. Kita harus menemukan dasar antara “kita menjadi penerima” atau “kita menjadi ‘penerima’ dan ‘pemberi’.” Kita harus sangat hati-hati dalam hal kemandirian secara finansial. Para pemimpin harus benar-benar memiliki sikap doa ketika berurusan dengan keuangan.

Menjejaki kembali Visi 2025 sekarang ini adalah waktu yang tepat. Karena organisasi-organisasi Aliansi memiliki sejarah yang berbeda-beda, tidak setiap orang di Wycliffe memahami secara penuh apa maksud Visi tersebut, bahwa visi itu tentang perubahan hidup komunitas dan tentang kepemilikan lokal, bukan semata-mata menghitung jumlah proyek penerjemahan. Visi ini memberikan kemampuan merangkul orang untuk terlibat daripada mencegahnya. Hal ini sangat berguna untuk menjadi panggilan yang menggerakkan gereja, suatu pernyataan, mendorong gereja memiliki rasa urgensi/ sifat mendesak dalam membangun kemitraan di kalangan gereja-gereja baik di belahan Barat maupun di belahan Selatan.

Kita membutuhkan kemitraan, pelayanan tanpa batasan. Organisasi-organisasi kecil dapat memberikan pengaruh yang besar di suatu daerah. Kita harus menggunakan kekuatan yang kita miliki untuk berpartisipasi dalam pekerjaan penerjemahan Alkitab. “Bersama kita bisa”. Sangatlah penting bagi kita untuk menemukan identitas kita, mengetahui apa yang menjadi kekuatan dan kelemahan kita sehingga kita tahu bagaimana kita dapat saling melayani satu dengan lainnya. Beberapa organisasi dapat melayani dengan menjadi contoh bagi organisasi lainnya baik di negara mereka maupun di luar negeri. Kita memerlukan lebih banyak cerita, cerita-cerita yang berbeda. Setiap cerita adalah penting, dan merupakan bagian dari cerita Allah. Kita dapat belajar dari cerita/kisah setiap orang—cerita-cerita tentang kegagalan juga tentang kesuksesan.

Peneguhan Misiologis yang diwujudkan dalam Visi 2025: Urgensi / Sifat mendesak

Topik tentang urgensi membukakan pandangan-pandangan dalam spektrum yang luas dan kepedulian yang mendalam akan Misi Allah, partisipasi kita di dalam misi Allah, serta kebutuhan manusia di dalam dunia.

Makna kata urgensi sebagaimana dipahami dalam konteks visi 2025 mencakup pandangan mereka yang melihat urgensi sebagai masalah hidup dan mati. Banyak komunitas bahasa masih tidak memiliki akses kepada Firman Tuhan. Orang-orang sedang menuju kematian tanpa mengenal Juru Selamat dunia. Gereja-gereja tidak akan menjadi kuat dan efektif tanpa dasar Firman Tuhan. Kesudahan Jaman sudah dekat, malam akan segera tiba. Dunia sedang berubah. Allah sudah memerintahkan kita untuk pergi, ini adalah kehendakNya. Itulah sebabnya, urgensi adalah tentang menyelesaikan penerjemahan secepat mungkin dengan bermitra lebih banyak, menggunakan sumberdaya-sumberdaya yang tersedia baik lokal maupun global, dan membangun kemitraan lebih banyak terkait penggunaan hasil pekerjaan tersebut.

Bagi yang lain, urgensi bukan saja tentang mempercepat pekerjaan itu, tetapi juga bagaimana membuat strategi. Fokus dan prioritas dilihat sebagai kata penuntut yang lebih tepat dibanding urgensi. Jangan bertindak tergesa-gesa. Bersabarlah untuk mencari arahan dari Tuhan. Urgensi bermakna lebih kepada bagaimana pekerjaan itu dilakukan daripada kapan pekerjaan itu diselesaikan. Urgensi seharusnya tidak menggantikan keterlibatan komunitas, membangun kemitraan dan hubungan dengan Gereja daripada sekedar membuka kesempatan-kesempatan untuk lebih banyak keterlibatan dengan tekanan yang lebih sedikit.

Banyak organisasi yang telah terdampak oleh rasa urgensi ini. Beberapa diantaranya sudah mengidentifikasikan tujuan-tujuan dalam hal berapa jumlah kelompok bahasa yang akan dijangkau atau berapa jumlah gereja yang akan dihubungkan dengan kelompok bahasa ini. Beberapa diantaranya lebih bertekad mengembangkan pelatihan dan kemitraan gereja. Beberapa organisasi Wycliffe berupaya membantu mengembangkan hubungan yang lebih dekat dengan organisasi Wycliffe lainnya di belahan dunia yang lainnya. Banyak juga yang berupaya menggunakan waktu untuk melakukan refleksi tentang Misi Allah dan peran penerjemahan alkitab di dalamnya.

Ada sedikit ketegangan muncul ketika masalah tentang hubungan dan akuntabilitas diangkat. Hubungan tentunya membutuhkan waktu, sedangkan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya (para stakeholder) mengharapkan hasil yang cepat dan terukur. Urgensi didefinisikan secara berbeda dalam konteks dan bahasa yang berbeda. Respon atau tanggapan kita harusnya lebih melihat konteks. Misi adalah milik Allah. Allah sendirilah yang akan menyempurnakan sesuai waktu-Nya. Ia telah mengajak kita untuk berpartisipasi bersamaNya, akan tetapi keberhasilan misiNya tidaklah bergantung kepada kita. Skala urgensi kita diukur melalui seberapa baik kita mengerti Pikiran Allah, kehendakNya, MisiNya, dll. Itulah sebabnya, urgensi membutuhkan doa yang sungguh-sungguh.

Sebagai suatu Aliansi, kesepakatan kita bersama adalah kita harus berdoa, pertama-tama dan terutam. Kemudian membuat strategi terkait kebutuhan dan harapan/ekspektasi dari semua mitra yang terlibat. Kita harus bergantung pada Allah yang akan menyediakan semua kebutuhan untuk menyelesaikan misiNya. Kita harus membangun hubungan yang sehat dan kuat, berkomunikasi dengan lebih baik—lebih sering dan lebih efektif—diantara kita sendiri dan orang yang kita layani, para mitra dan komunitas lokal. Kita harus melepaskan segala kontrol/pengendalian, dan membangun kemitraan yang memberikan kebebasan untuk mengambil resiko, mengkontribusikan apapun yang bisa kita berikan, saling menyatukan sumberdaya dan dukungan satu dengan lainnya dengan cara yang baru. Kita harus berpikir jangka panjang, berpikir holistik, belajar dari masa lalu, saling membagikan pengalaman kita, dan saling belajar satu dengan lainnya.

Peneguhan Misiologis yang diwujudkan dalam Visi 2025: Menghadapi kemitraan berbasis Kerajaan Allah- Bermitra sebagai sahabat.

Beberapa orang mengatakan bahwa persahabatan bertumbuh melalui kemitraan, sedangkan lainnya mengatakan bahwa kemitraan dibangun di atas dasar persahabatan. Ada juga yang mengatakan bahwa keduanya yaitu kemitraan maupun persahabatan tidak perlu berjajaran sama sekali. Sebagian orang mengatakan bahwa persahabaan dan kemitraan adalah komitmen sebagaimana sebuah keluarga. Sebagian berpendapat bahwa kedua hal ini bukanlah hal permanen sebagaimana sebuah keluarga, melainkan suatu pilihan yang menuntut adanya komitmen. Banyak orang yang memakai kata “Persahabatan” dan “kemitraan” secara bergantian, namun sekali lagi, dalam refleksi kedua hal ini dianggap sebagai hal yang berbeda dalam beberapa tingkatan.

Semuanya sepakat bahwa persahabatan dibentuk secara budaya, dan definisi budaya kita atau parameter kita tentang persahabatan yang baik sangatlah berbeda. Hal ini dapat menyebabkan konflik yang mendalam. Tetapi semuanya juga setuju bahwa persahabatan yang bertahan melewati konflik akan menjadi semakin kuat dan sejati.

Persahabatan lebih bersifat pribadi, lebih individual dari pada kemitraan. Persahabatan lebih bertahan, Kemitraan dapat berkahir. Persahabatan mebutuhkan waktu dan kedekatan, Persahabatan tidak terjadi dengan mudah apalagi jika berlangsung jarak jauh, adanya perbedaan budaya, ataupun perbedaan waktu yang harus diatasi. Ada harga yang harus dibayar bagi persahabatan dalam Aliansi, yaitu uang dan waktu—untuk membiayai kunjungan, untuk menolong satu dengan lainnya yaitu kebaikan hati untuk memberi (Makanan, kopi, kebutuhan rapat, dll).

Persahabatan dibangun di atas unsur alkitabiah yaitu Kasih. Seseorang mendekati seorang teman sebagai subyek dari persahabatan dan bukan sebagai objek – lebih memberi daripada menerima; untuk merayakan bersama-sama daripada bersaing, dengan rendah hati mengenal dan dikenal. Sahabat yang baik saling mempercayai dan saling setia. Persahabatan yang tulus membutuhkan waktu untuk berkembang dengan baik.

Kemitraan, di sisi lain, dapat diciptakan lebih cepat sebagaimana perjanjian bisnis. Kemitraan juga menuntut adanya komitmen, kejujuran, dan kepercayaan, tetapi tidak dapat mengendalikan ketidaknyamanan karena jarak dan waktu dengan mudah. Kemitraan dibangun di atas dasar kesamaan visi serta komitmen dan tujuan yang jelas. Namun demikian, lebih dari sekedar menjadi produktif, kita bekerja bersama karena ini adalah kehendak Tuhan, karena kita tahu bermitra dalam pelayanan berarti menghormati Tuhan. Kemitraan adalah upaya rohani. Hal ini mencerminkan panggilan Tuhan untuk hidup dalam komunitas.

Kemitraan di antara organisasi-organisasi adalah hal yang bersifat praktis. Namun, persahabatan di antara organisasi-organisasi menjadi sulit ketika ada pergantian kepemimpinan. Di sisi lain, para pemimpin menjadi teladan bagi organisasinya dalam mencontohkan seperti apa persahabatan yang sejati itu. Para pemimpin harus menunjukkan cara membangun persahabatan di kalangan Aliansi.

Ada banyak tingkatan persahabatan. Seseorang tidak dapat memiliki begitu banyak hubungan persahabatan yang mendalam, karena hal ini membutuhkan banyak pengorbanan dan sangat berharga. Banyak orang percaya bahwa jauh lebih praktis untuk berfokus pada waktu, tenaga dan sumberdaya pada beberapa persahabatan yang baik saja demi menjaga kualitas dan keberlangsungan persahabatan itu.

Dan pekerjaan menjadi semakin indah ketika dilakukan dalam persahabatan. Tuhan tidak pernah malu memanggil kita sebagai sahabatNya.

Peneguhan Misiologis yang diwujudkan dalam Visi 2025: Menghadapi Kemitraan berbasis Kerajaan Allah – Bermitra dalam konteks realita global.

Memahami Globalisasi dan Glokalisasi memberikan pengertian yang lebih baik tentang bagaiamana Aliansi berfungsi. Bersatu sebagai tubuh Kristus, memiliki kepercayaan yang sama, membagi sumberdaya dan sumberdaya manusia membuat komunitas Aliansi membentuk kemitraan yang kreatif dan strategis. Dalam bentuk kemitraan tertentu, tidak ada seorangpun yang kurang bernilai di banding yang lain, baik secara lokal maupun global. Ketika seseorang membutuhkan pertolongan, maka sumberdaya dicurahkan dengan begitu murah hati dari segala penjuru dimanapun sumberdaya itu berada. Itulah sebabnya kita bisa lebih terbuka untuk membicarakan hal-hal yang sulit, dan lebih peka satu dengan lainnya. Kekuatan Aliansi berasal dari hubungan di kalangan organisasi-organisasinya, tidak ada yang menjadi pusat kendali melainkan ada banyak/multi pusat pengaruh, suatu kekuatan demokratisasi.

Globalisasi memungkinkan akses yang cepat terhadap informasi dan penguatan dari yang lain. Sesuatu yang berhasil di terapkan di satu tempat dapat disediakan juga dengan cepat di tempat lainnya. Globalisasi menegaskan keunikan dari konteks istimewa kita— membuat kita memikirkan bagaimana caranya kita dapat berbagi dan bekerjasama juga belajar satu dengan lainnya tanpa kehilangan identitas dan keberbedaan kita. Hal ini menciptkana satu rasa umum tentang kesatuan dan persahabatan yang akan kita bawa ke dalam konteks lokal. Polisentrisme memungkinkan terjalinnya hubungan yang lebih baik antara diri kita sendiri dan gereja-gereja lokal. Ada begitu banyak kebutuhan lokal yang menuntut adanya kemitraan global dan kekuatan-kekuatan lokal lainnya yang menuntut adanya sistem global untuk mengekspresikan/mewujudkannya.

Globalisasi/Glokalisasi dan polisentrisme bagaimanapun juga membangkitkan kesadaran. Hal-hal ini berkontribusi atas melemahnya individualisme – suatu kesatuan manusia, budaya, dan organisasi. Polisentrisme menantang sistem pemerintahan gereja dan tumbuhnya kerinduan gereja untuk terlibat langsung dalam misi. Hal ini dapat menyebabkan kekuatiran para mitra akan kehilangan kontrol/pengendalian. Juga, kekuatiran alamiah berdasarkan sejarah dapat menyebabkan keraguan sebelum memasuki sistem berbagi kekuasaan (mempertimbangkan sejarah kolonialisme, atau posisi historis SIL dalam banyak konteks). Beberapa organisasi lebih memilih struktur yang hirarkis dalam konteks mereka dan itulah sebabnya mereka sangat bergumul untuk menyatu dengan struktur global yang tidak kaku (seperti cairan). Lebih jauh lagi, kesulitan yang dihadapi oleh satu organisasi akan mempengaruhi organisasi lainnya. Sebagai contoh, Krisis keuangan di satu kelompok akan mempengaruhi sumberdaya kelompok lainnya, atau ketegangan karena masalah seperti kontroversi Istilah Keilahian yang sudah bias, dapat mempengaruhi banyak orang. Meningkatnya penglihatan organisasi-organisasi dalam kemitraan global dan perkembangan media sosial membuat pemrintah-pemerintah semakin menyadari aktifitas yang terjadi di dalam negara mereka. Hal ini menyebabkan meningkatnya resiko pekerjaan ini terekspose secara luas yang akan memberi pengaruh buruk pada orang-orang dan proyek di area sensitif.

Kita harus memastikan bahwa kemitraan kita seimbang dalam hal waktu, otoritas, kepemilikan dan kompetensi baik dalam hal memberi maupun menerima. Kita membutuhkan landasan yang baik untuk membagikan praktek terbaik antar organisasi, sistem yang memungkinkan komunikasi, teknologi yang sesuai dengan konteks dan strategi yang mengarah pada 7 (tujuh) aliran partisipasi. Kita harus menyadari kesalahan yang sudah dilakukan, meminta maaf dan memulihkan hubungan. Rekonsiliasi/perdamaian haruslah sungguh-sungguh. Kita harus rendah hati, untuk mendengarkan Tuhan lebih banyak dan saling mendengar satu dengan lainnya, lebih sedikit bicara dan saling belajar, mengenyampingkan apa yang menjadi hak kita, menyelesaikan kekacauan dan menyadari adanya kebutuhan untuk berkoordinasi dan berkomunikasi dengan lebih baik, secara tingkatan global dan global-ke-lokal (glokal).Membangun suatu hubungan dan diperlengkapi lebih baik untuk merespon kebutuhan, kita harus sungguh-sungguh bertekad dalam melakukan rapat bersama untuk membangun kepercayaan, hubungan yang salingbergantung dalam segala tingkatan.

Peneguhan Misiologis yang diwujudkan dalam Visi 2025: Kebergantungan pada Allah

Kebergantungan adalah memberikan diri kita kepada Allah

Kita bergantung kepada Allah karena hidup kita bukanlah milik kita; kita adalah makhluk yang bergantung. Terjamin dalam identitas kita sebagai orang yang dikasihi Allah, kita memilih untuk hidup dalam penyangkalan diri total kepadaNya. Allah menjadi makin penting dari apapun juga. Kita mencari kerajaanNya lebih dahulu, mempercayai bahwa Ia akan menyediakan segala sesuatunya. Kita bertanya, “Apakah yang paling penting di mata Allah? Apakah yang menjadi prioritasNya?”

Kebergantungan adalah seimbang

Kebergantungan adalah jalan masuk keseimbangan antara menantikan Tuhan dan bertindak dalam ketaatan pada rencanaNya. Kita membuat rencana kemudian menggenggamnya dengan ringan, selalu siap melepaskan rencana itu hanya jika Allah menghendakinya. Kita percaya kepada Allah dengan cara yang aktif dan tidak tergesa-gesa, tidak mengejar apa yang menjadi agenda pribadi kita sendiri, tidak mencari solusi yang mudah dan cepat, ataupun menjadi malas dan tidak aktif, melainkan berdoa dengan rajin, menantikan dengan penuh harapan dan bertindak dengan taat.

Kebergantungan adalah kebebasan

Proyek penerjemahan alkitab adalah milik Allah, perubahan hidup adalah karya Allah, bukan milik ataupun karya kita. Karena semuanya milik Allah, maka Allah bertanggungjawab dalam mmenyelesaikannya. Kebergantungan kepada Allah membebaskan kita dari kekuatiran karena terbatasnya sumberdaya dan waktu. Kita menyadari keterbatasan dan ketidakcukupan kita. Kita tidak mengandalkan diri kita sendiri. Ketika kita harus menjadi badan yang akuntabel dan mengelola apa yang dipercayakan Tuhan kepada kita dengan baik, kebergantungan kepada Allah membebaskan kita dari tekanan dan stres untuk sukses. Mengetahui bahwa Allah dengan setia menyediakan segala keperluan manusia di masa lalu, kita juga dapat memiliki keyakinan bahwa Ia akan mencukupkan apa yang diperlukan dalam pekerjaan ini.

Kebergantungan dan kecemasan tidak boleh ada bersama-sama. Urgensi tidak boleh menghancurkan kebergantungan kita kepada Tuhan. Bahkan ada suatu urgensi untuk kita lebih bergantung kepada Allah. Kita harus mempercayai waktuNya.

Kebergantungan dalam Doa

Doa adalah tindakan; merupakan ekspresi kebergantungan kita kepada Allah. Kebergantungan tidak selalu tentang uang atau sumberdaya jasmani, tetapi ini juga tentang upaya kita mencari hikmat Tuhan. Berdoa berarti melatih disiplin diri untuk membatasi ketidakbergantungan kita atau merasa diri cukup, karena keduanya adalah dosa. Kebergantungan adalah kerendahan hati– suatu ujian tertinggi akan keintiman kita dengan Allah.

Kebergantungan bersifat mutual

Kebergantungan kepada Allah memberi kita kebebasan untuk membangun suatu hubungan / kemitraan yang didasarkan pada mutualitas. Kemitraan mendorong kita untuk lebih lagi mempercayai Allah. Kemitraan tidaklah didasarkan pada hal-hal material melainkan berdasarkan pada Allah semata. Yang satu tidaklah lebih besar ataupun lebih kecil dari yang lain. Ketika kita membutuhkan sesuatu, kita dapat meminta pertolongan dari komunitas global. Kita harus bersedia untuk berkorban tanpa mengharapkan imbalan, tidak mengambil keuntungan dari yang lain. Kita saling menolong dengan cara memberi contoh akan rasa percaya kita kepada Allah. Kita semua lemah dan sama-sama butuh bergantung kepada Allah. Dalam kemitraan kita saling memberikan teladan kebergantungan kepada Allah dan saling menolong. Seringkali seseorang mengajar dan yang lainnya belajar, di waktu lain terjadi sebaliknya. Kita harus bertekad membangun waktu bersama Allah dalam interaksi kita satu dengan lainnya.

 

[1] Ott, C and Payne, J D (eds) 2013. Missionary methods: Research, Reflections and Realities. Pasadena CA: William Carey Library. p. xv.

 

03/2022 global

2022 dan Visi bagi Aliansi

Stephen Coertze, Direktur Eksekutif Pada minggu-minggu awal tahun baru...

Baca selengkapnya